Senin, 16 Juni 2014

PENDAPAT IMAM SYAFI'I MENGENAI ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

 Penulis: Rizki Maulana

Untuk mengetahui bagaimana pendapat beliau rahimahullah tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas, maka – setidaknya - langkah yang mesti ditempuh adalah mencermati perkataan beliau yang ada di kitab-kitab beliau, atau kitab-kitab yang ditulis oleh ashhaab atau ulama madzhab beliau, atau kitab-kitab yang ditulis oleh ulama lain. Oleh karena itu, melalui artikel ini saya (Rizki Maulana) akan mengajak Pembaca sekalian untuk mengetahui apa sebenarnya pendapat beliau dalam permasalahan ini.



Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :
مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ مِمَّنْ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ قِيلَ لَهُ: لِمَ لَا تُصَلِّي؟ فَإِنْ ذَكَرَ نِسْيَانًا، قُلْنَا: فَصَلِّ إِذَا ذَكَرْتَ، وَإِنْ ذَكَرَ مَرَضًا، قُلْنَا: فَصَلِّ كَيْفَ أَطَقْتَ ؛ قَائِمًا، أَوْ قَاعِدًا، أَوْ مُضْطَجِعًا، أَوْ مُومِيًا، فَإِنْ قَالَ: أَنَا أُطِيقُ الصَّلَاةَ وَأُحْسِنُهَا، وَلَكِنْ لَا أُصَلِّي، وَإِنْ كَانَتْ عَلَيَّ فَرْضًا قِيلَ لَهُ: الصَّلَاةُ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَا يَعْمَلُهُ عَنْكَ غَيْرُكَ، وَلَا تَكُونُ إِلَّا بِعَمَلِكَ، فَإِنْ صَلَّيْتَ، وَإِلَّا اسْتَتَبْنَاكَ، فَإِنْ تُبْت وَإِلَّا قَتَلْنَاكَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ أَعْظَمُ مِنَ الزَّكَاةِ
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat wajib bagi orang yang telah masuk Islam (muslim), dikatakan kepadanya : ‘Mengapa engkau tidak shalat ?’. Jika ia mengatakan : ‘Kami lupa’, maka kita katakan : ‘Shalatlah jika engkau mengingatnya’. Jika ia beralasan sakit, kita katakan kepadanya : ‘Shalatlah semampumu. Apakah berdiri, duduk, berbaring, atau sekedar isyarat saja’. Apabila ia berkata : ‘Aku mampu mengerjakan shalat dan membaguskannya, akan tetapi aku tidak shalat meskipun aku mengakui kewajibannya’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Shalat adalah kewajiban bagimu yang tidak dapat dikerjakan orang lain untuk dirimu. Ia mesti dikerjakan oleh dirimu sendiri. Jika tidak, kami minta engkau untuk bertaubat. Jika engkau bertaubat (dan kemudian mengerjakan shalat, maka diterima). Jika tidak, engkau akan kami bunuh. Karena shalat itu lebih agung daripada zakat” [Al-Umm, 1/281. Disebutkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Aatsaar, 3/117].
حُضُورُ الْجُمُعَةِ فَرْضٌ، فَمَنْ تَرَكَ الْفَرْضَ تَهَاوُنًا كَانَ قَدْ تَعَرَّضَ شَرًّا، إِلَّا أَنْ يَعْفُوَ اللَّهُ، كَمَا لَوْ أَنَّ رَجُلًا تَرَكَ صَلَاةً حَتَّى يَمْضِيَ وَقْتَهَا، كَانَ قَدْ تَعَرَّضَ شَرًّا، إِلَّا أَنْ يَعْفُوَ اللَّهُ.
“Menghadiri shalat Jum’at adalah wajib. Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban karena meremehkannya, maka ia akan mendapatkan akibat buruk, kecuali Allah memaafkannya. Sebagaimana jika seseorang meninggalkan shalat hingga lewat dari waktunya, maka ia pun akan mendapatkan akibat yang buruk, kecuali jika Allah memaafkannya” [Al-Umm, 1/228. Disebutkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Aatsaar, 2/528].
Dari sini dapat kita ketahui pendapat Asy-Syaafi’iy bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkan selama ia mengakui kewajibannya, statusnya masih muslim. Hukum bunuh yang dijatuhkan kepadanya adalah sebagai hadd, bukan karena kekafirannya. Ini ditegaskan oleh pernyataan para ulama madzhab beliau (Syaafi'iyyah) sebagaimana di bawah.
Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
وَذَهَبَ الآخَرُونَ إِلَى أَنَّهُ لا يُكَفَّرُ، وَحَمَلُوا الْحَدِيثَ عَلَى تَرْكِ الْجُحُودِ، وَعَلَى الزَّجْرِ وَالْوَعِيدِ.وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَمَكْحُولٌ، وَمَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ: تَارِكُ الصَّلاةِ كَالْمُرْتَدِّ، وَلا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الدِّينِ.
“Ulama lain berpendapat bahwasannya ia (orang yang meninggalkan shalat) tidak dikafirkan. Mereka membawa pengertian hadits[1] pada meninggalkan karena juhuud (pengingkaran), juga pada pengertian celaan dan ancaman. Hammaad bin Zaid, Mak-huul, Maalik, dan Asy-Syaafi’iy berkata : Orang yang meninggalkan shalat seperti orang murtad, namun ia tidak keluar dari agama” [Syarhus-Sunnah, 2/180].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
في مذاهب العلماء فيمن ترك الصلاة تكاسلا مع اعتقاده وجوبها: فمذهبنا المشهور ما سبق انه يقتل حدا ولا يكفر وبه
“Dalam madzhab-madzhab para ulama terhadap orang yang meninggalkan shalat karena malas bersamaan dengan keyakinan akan kewajibannya, maka madzhab kami (yaitu madzhab Syaafi’iyyah) yang masyhuur adalah sebagaimana yang telah lewat yaitu ia dibunuh sebagai hadd, namun tidak dikafirkan” [Al-Majmuu’, 3/16].
فذهب مالك والشافعي رحمهما الله والجماهير من السلف والخلف إلى أنه لا يكفر بل يفسق ويستتاب فإن تاب وإلا قتلناه حدا كالزاني المحصن ، ولكنه يقتل بالسيف
“Maalik dan Asy-Syaafi’iy rahimahumallah serta jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwasannya ia (orang yang meninggalkan shalat karena malas, namun masih mengakui kewajibannya) tidak dikafirkan, namun difasikkan dan diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat (maka diterima), dan jika tidak, maka kita membunuhnya sebagai hadd seperti pelaku zina muhshan....” [Syarh Shahih Muslim, lihat : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=268&idto=273&bk_no=53&ID=44].
Al-Maawardiy rahimahullah berkata :
وَإِنْ لَمْ يَتُبْ وَأَقَامَ عَلَى امْتِنَاعِهِ مِنْ فِعْلِهَا فَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ : أَحَدُهَا : وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ أَنَّ دَمَهُ مُبَاحٌ وَقَتْلَهُ وَاجِبٌ ، وَلَا يَكُونُ بِذَلِكَ كَافِرًا .
“Apabila ia tidak bertaubat dan menolak meninggalkan perbuatannya[2], para ulama berselisih pendapat dalam tiga madzhab. Pertama, yaitu madzhab Asy-Syaafi’iy dan Maalik yang menyatakan darahnya boleh (ditumpahkan) dan membunuhnya adalah wajib, namun ia tidak dikafirkan......” [Al-Haawiy, 2/525].
Pernyataan ulama non-Syaafi’iyyah tentang pendapat Asy-Syaafi’iy dapat dituliskan secara ringkas sebagai berikut :
Abu Ismaa’iil Ash-Shaabuniy rahimahullah berkata :
وذهب الشافعي ، وأصحابه، وجماعة من علماء السلف- رحمة الله عليهم أجمعين – إلى أنه لا يكفر به – ما دام معتقداً لوجوبها – وإنما يتوجب القتل كما يستوجبه المرتد عن الإسلام . وتأولوا الخبر : من ترك الصلاة جاحداً لها ؛ كما أخبر سبحانه عن يوسف عليه السلام أنه قال: (إني تركت ملة قوم لا يؤمنون بالله وهم بالآخرة هم كافرون) ، ولم يك تلبس بكفر ففارقه ؛ ولكن تركه جاحداً له.
“Adapun Asy-Syaafi’iy dan shahabat-shahabatnya, serta sekelompok ulama salaf – semoga Allah merahmati mereka semua – berpendapat bahwa orang tersebut tidak dikafirkan dengannya, selama ia meyakini tentang kewajibannya. Hanya saja, ia wajib dibunuh (sebagai hadd) seperti halnya wajib dibunuhnya orang yang murtad dari Islam. Mereka menakwilkan hadits di atas dengan : ‘orang yang meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya’. Hal itu sebagaimana firman Allah subhaanahu  tentang Yuusuf ‘alaihis-salaam : ‘Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian’ (QS. Yuusuf : 37). Yuusuf meninggalkan agama mereka bukan karena kekufuran yang samar, akan tetapi karena keingkaran mereka terhadap Allah dari hari kiamat” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabul-Hadiits, hal. 84].
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
والرواية الثانية يقتل حدا مع الحكم بإسلامه كالزاني المحصن وهذا اختيار أبي عبد الله بن بطة وأنكر قول من قال : أنه يكفر وذكر أن المذهب على هذا لم يجد في المذهب خلافا فيه وهذا قول أكثر الفقهاء وقول أبي حنيفة و مالك و الشافعي
“Dan riwayat yang kedua menyatakan bahwa ia dibunuh sebagai hadd bersamaan dengan status keislaman dirinya (bukan kafir) seperti pezina muhshan. Pendapat ini dipilih oleh Abu ‘Abdillah bin Baththah, dan ia mengingkari perkataan orang yang mengatakan bahwasannya orang tersebut dikafirkan. Dan ia (Ibnu Baththah) menyebutkan bahwasannya madzhab Hanaabilah ada di atas pendapat ini, dan ia tidak mendapatkan adanya perselisihan dalam madzhab. Pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan fuqahaa, dan juga merupakan pendapat Abu Haniifah, Maalik, dan Asy-Syaafi’iy...” [Al-Mughniy, 2/297].
Adapun para ulama kontemporer, maka Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah pernah ditanya : Apa hukum orang yang meninggalkan shalat menurut Asy-Syaafi’iy ?, maka beliau menjawab :
 المعروف عن مذهب الشافعية أنهم لا يرون كفر تارك الصلاة ولكن الأدلة تدل على كفره والواجب على المؤمن اتباع ما دل عليه كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم 
“Yang ma’ruf dalam madzhab Asy-Syaafi’iyyah bahwasannya mereka tidak berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Akan tetapi dalil-dalil menunjukkan akan kekafirannya, dan wajib bagi seorang mukmin untuk mengikuti dalil yang terdapat dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam....” [sumber : http://islamancient.com/play.php?catsmktba=38082].
Dr. Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab Al-‘Aqil berkata saat memberikan kesimpulan pendapat Asy-Syaafi’iy rahimahullah dalam hal ini :
والحاصل أن الشافعي رحم الله يرى عدم كفر تارك الصلاة كسلا.....
“Dan kesimpulannya, Asy-Syaafi’iy rahimahullah berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas.....” [Manhaj Al-Imaam Asy-Syaafi’iy, hal. 220].
Catatan Penting :
Ath-Thahawiy rahimahullah berkata :
وقد اختلف أهل العلم في تارك الصلاة كما ذكرنا , فجعله بعضهم بذلك مرتدا عن الإسلام , و جعل حكمه حكم ما يستتاب في ذلك , فإن تاب وإلا قتل , منهم الشافعي رحمة الله تعالي عليه
Para ulama telah berselisih pendapat dalam masalah hukum meninggalkan shalat sebagaimana yang pernah kami sebutkan. Sebagian ulama ada yang menyatakan orang yang meninggalkan shalat berarti murtad dari Islam dan ia pun harus dimintai taubat. Jika tidak bertaubat, ia dibunuh. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah.” [Musykiilul-Aatsaar, 4/228].
Ini adalah wahm dari Ath-Thahawiy rahimahullah karena menyelisihi perkataan Asy-Syaafi’iy sendiri dan juga para ulama lain sebagaimana disebutkan di atas. Asy-Syaikh Abul-Hasan Al-Ma’ribiy hafidhahullah menegaskan penyelisihan Ath-Thahawiy tersebut Sabiilun-Najaah [lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8089].
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
NB : Tulisan ini bukan bertujuan membahas hukum orang yang meninggalkan shalat, akan tetapi terbatas membahas pendapat Asy-Syaafi’iy rahimahullah sebagaimana tertera dalam judul artikel.


[1]        Yaitu hadits :
بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ
(Batas) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.
[2]      Yaitu menolak meninggalkan perbuatannya meninggalkan shalat – bersamaan dengan pengakuannya akan kewajiban shalat pada dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar