Kamis, 20 November 2014

MEMBEDAH BUKU "MADZHAB AL-ASY'ARI"

Penulis: Rizki Maulana
Telah sampai kepada kami (saya: Rizki Maulana dan rekan-rekan saya) sebuah buku yang berjudul Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlus sunnah Wai Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi. Di dalam kata pengantar dari buku ini disebutkan bahwa buku ini menjawab ungkapan-ungkapan yang mempertanyakan penisbahan Madzhab al-Asy’ari kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Setelah kami telaah buku ini, ternyata di dalam-nya terdapat hal-hal yang perlu diluruskan dan syubhat-syubhat yang perlu dijelaskan jawaban-jawabannya. ,

Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasihat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq, maka dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan sebagian dari syubhat-syubhat buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Muhammad Idrus Ramli dan diterbitkan oleh Penerbit Khalista Surabaya, cetakan pertama, April 2009 M.

IBNU KULLAB BERAQIDAH SALAF?!

Penulis berkata di dalam him. 46:
Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bah­wa Al-lmam Ibnu Kullab termasuk ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan konsisten dengan metodologi salaf yang saleh dalam pokok-pokok akidah dan keimanan.
Kami katakan:

Demikianlah penulis telah membuat kedustaan de­ngan memasukkan Ibnu Kullab di dalam barisan ulama Ahlis Sunnnah yang mengikuti manhaj salaf, dalam keadaan Ibnu Kullab telah menyelisihi pokok-pokok aqidah Salaf sebagaimana akan kami jelaskan di dalam keterangan berikut.

Ibnu Kullab adalah Abdulloh bin Sa’id bin Kul­lab al-Qoththon al-Bashri (wafat 240 H). Biografinya bisa dilihat di dalam kitab as-Siyar oleh adz-Dzahabi (11/174), Lisanul Mizan oleh Ibnu Hajar (3/290), Fihrisat oleh Ibnu Nadim (hlm. 230), dan Thobaqot Syafi’iyyah oleh as-Subki (2/299).

Al-lmam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Kullab: “Dia adalah tetua ahli kalam di Bashrah pada zamannya.” (Siyar A’lamin Nubala‘: 11/174)

Di antara perkataan-perkataan Ibnu Kullab, dia menetapkan sifat-sifat dzatiyyah bagi Alloh seperti ilmu, hayat, sama‘, dan yang lainnya sebagai­mana dinukil oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari di dalam Maqolatil Islamiyyin hlm. 169, dan dia menafikan (meniadakan) sifat-sifat fi’il bagi Alloh yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan masyi’ah (keinginan) dan irodah (kehendak) Alloh Ta’ala.

Al-lmam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata: “Ab­dulloh bin Kullab berkata, ‘Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa berbicara, dan bah­wa kalam Alloh Subhanahu adalah sifat bagi-Nya yang tegak pada-Nya dan bahwa dia adalah qodim dengan kalam-Nya, dan bahwa kalam-Nya adalah tegak pada diri-Nya sebagaimana ilmu-Nya tegak pada diri-Nya dan qudroh-Nya tegak pada diri-Nya.’” (Maqolatil Islamiyyin hlm. 584)

Dan berkata al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah,Ibnu Kullab berkata, ‘Sesungguhnya Alloh senantia­sa berbicara, dan al-kalam termasuk sifat dzat seperti ilmu dan qudroh.’” (Maqolatil Islamiyyin hlm. 517)

Ibnu Kullab mengatakan bahwa al-Qur’an bukan makhluk, tetapi dia mengingkari bahwa Alloh berbicara dengan suara.

Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata: “Dan Abdulloh bin Kullab telah menyangka bahwa apa yang kita dengarkan dari para pembaca al-Qur’an adalah ibarat (ungkapan) dari kalam Alloh ‘Azza wa Jalla.” (Maqolatil Islamiyyin hlm. 585)

Dan Ibnu Kullab juga berkata: “Dan bahwa Kalamulloh bukan dengan huruf dan dengan suara, tidak terbagi-bagi.” (Maqolatil Islamiyyin him. 584)

Perkataan-perkataan Ibnu Kullab di atas jelas menyelisihi aqidah salaf yang mengimani semua sif at-sifat Alloh sebagaimana yang diberitakan oleh Alloh di dalam Kitab-Nya dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sunnahnya. Al-Walid bin Muslim rahimahullah berkata:






Saya bertanya kepada al-Auza’i, Sufyan, dan Malik bin Anas tentang hadits-hadits yang datang mengenai sifat-sifat Alloh dan ru’yah (dilihatnya Alloh di akhirat), mereka semua menjawab, ‘Perlakukanlah (ayat-ayat tentang sifat Alloh) sebagaimana datangnya dan janganlah kamu persoalkan (jangan kamu tanya tentang bagaimana sifat itu).”[i]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:



“Telah sepakat salaf umat ini dan para imamnya bahwasanya Robb Ta’ala jauh dari makhluk-makhluk-Nya. Dia disifati dengan apa yang telah Dia tetapkan atas diri-Nya dan telah ditetapkan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wasallam untuk-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil serta tanpa takyif dan tamtsil.”[ii]
 
MENUDUH AL-IMAM AL-BUKHORI PENGIKUT IBNU KULLAB

Penulis berkata di dalam him. 46-47:
Metodologi Ibnu Kullab tidak hanya diikuti oleh al-lmam al-Asy’ari, akan tetapi juga diikuti oleh para ulama besar, antara lain al-lmam al-Bukhari pengarang Shahih al-Bukhari.
Kami katakan:

Penulis telah berdusta atas al-lmam al-Bukhori de­ngan memasukkan al-lmam al-Bukhori sebagai pengikut Ibnu Kullab yang menyelisihi aqidah salaf.

Kedustaan penulis ini diketahui oleh siapa saja yang mau menelaah kitab Shohih Bukhori terutama di dalam “Kitabul Iman” dan “Kitabut Tauhid” dari Shohih Bukhori yang beliau menetapkan sifat-sifat Alloh sesuai dengan kesucian Alloh tanpa tanpa tahrif dan ta’thil serta tanpa takyif dan tamtsil.

Adapun Ibnu Kullab, dia mengimani sebagian sifat Alloh dan mengkufuri sebagian sifat-sifat yang lainnya sebagaimana telah kita jelaskan di atas. Begitu juga kitabnya yang lain, Kholqu Af’alil ‘Ibad, al-lmam al-Bukhori rahimahullah menetapkan bahwa kalamulloh itu dengan suara. Beliau berkata:
“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa suara Alloh tidak menyerupai suara-suara makhluk.” (Kholqu Af’alil ‘Ibad  hlm. 213)

Adapun Ibnu Kullab, dia mengingkari bahwa Alloh berbicara dengan suara sebagaimana di dalam nukilan di atas.

Al-lmam Abul Qosim al-Lalika’i rahimahullah menyebutkan tentang aqidah al-lmam al-Bukhori yang mengikuti aqidah salaf di dalam kitabnya Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wa Jama’ah (2/193-197) di bawah pasal yang berjudul: “Aqidah Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhori rohimahulloh pada jama’ah dari salaf yang beliau meriwayatkan dari mereka”

MENYEBARKAN KERAGU-RAGUAN TENTANG TAUBATNYA AL-IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI KEPADA AQIDAH SALAF

Penulis berkata di dalam him. 39:
Ada tesis yang berkembang di kalangan sebagian pakar, khususnya kalangan orang-orang Wahhabi, bahwa perjalanan pemikiran Al-lmam Al-Asy’ari melalui tiga fase perkembangan di dalam kehidupannya. Pertama, fase ketika al-Asy’ari mengikuti faham Mu’tazilah dan menjadi salah satu tokoh Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun. Kedua, fase di mana al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah dan merintis madzhab pemikiran teologisnya dengan mengikuti madzhab Ibnu Kullab. Ketiga, fase di mana Al-Asy’ari keluar dari madzhab yang dirintisnya yang mengikuti madzhab Ibnu Kullab dan kembali ke madzhab salaf yang saleh atau Ahlus sunnah wal Jama’ah dengan menulis karangannya yang berjudul al-lbanah ‘an Ushul al-Diyanah … Tentu saja tesis tersebut sangat lemah baik secara historis maupun secara ilmiah.
Penulis juga berkata di dalam him. 50:
Hal ini mengantarkan pula pada kesimpulan bahwa metodologi salaf dengan metodologi Ibn Kul­lab adalah sama, dan itu yang diikuti oleh al-lmam al-Asy’ari setelah keluar dari Mu’tazilah … bahkan pernyataan tersebut semakin menguatkan bahwa pemikiran al-Asy’ari hanya mengalami dua fase perkembangan saja, yaitu fase ketika mengikuti faham Mu’tazilah, dan fase kembalinya al-Asy’ari ke metodologi salaf yang diikuti oleh Ibnu Kullab, Al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi, ….
Kami katakan:

Demikianlah penulis hendak menyebarkan keragu-raguan terhadap taubatnya Abul Hasan al-Asy’ari kepada aqidah salaf dan bersikeras bahwa Abul Hasan al-Asy’ari tetap berada di dalam aqi­dah Kullabiyyah yaitu fase yang kedua dari tiga fase kehidupannya.

Hal (klaim penulis) itu terbantah dengan pernyataan al-lmam Abul Hasan al-Asy’ari yang menyatakan kembalinya beliau kepada aqidah Salaf dan (secara tidak langsung, -adm) menyebutkan madzhab Ibnu Kullab sebagai madzhab yang tersendiri terlepas dari aqidah salaf yang beliau ikuti. Al-lmam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata di dalam kitabnya Maqolatil Islamiyyin (1/345)

menjelaskan aqidah Ahlus Sunnah secara global dengan me­nyatakan bahwa beliau mengikuti aqidah tersebut:

“Ini adalah hikayat secara global perkataan ashhabul hadits dan Ahlus Sunnah; jalan yang ditempuh oleh Ahli Hadits dan Ahli Sunnah secara global: Mengakui Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya dan para rosul-Nya, dan apa yang datang dari sisi Alloh dan apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh (terpercaya) dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak menolak  sedikit pun dari hal itu, dan bahwasanya Alloh  Subhanahu adalah ilah (sembahan) yang satu, yang tunggal lagi tidak bergantung kepada segala sesuatu, tiada ilah yang haq disembah selain-Nya, tidak mengambil istri dan anak, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dan bahwa surga adalah haq, dan bahwa kiamat akan datang tidak ada keraguan di dalamnya dan bahwasanya Alloh membangkitkan orang yang ada di dalam kubur.
Dan bahwasanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Alloh berfirman:

 الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang istiwa’ di atas ‘Arsy. (QS. Thoha [20]: 5)
Dan bahwa Dia memiliki dua tangan tanpa kaifiyat sebagaimana Alloh berfirman:

 خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS. Shod [38]: 75)…
Dan mereka mengakui bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang… Dan mereka memandang ittiba’ (mengikuti) para salaf (yang telah terdahulu) dari para imam agama dan agar tidak mengada-adakan bid’ah di dalam agama iriereka apa-apa yang tidak diizinkan oleh Alloh…
Dan dengan semua yang telah kami sebutkan dari perkataan mereka kami mengucapkan, dan kepadanya kami bermadzhab. Dan tidaklah taufiq kami kecuali dengan Alloh. Cukuplah Dia bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Penjamin, kepada-Nyalah kami memohon pertolongan, kepada-Nyalah kami bertawakal, dan kepada-Nyalah tempat kembali.”

Al-lmam Abul Hasan al-Asy’ari berkata di dalam kitab al-lbanah ‘An Ushulid Diyanah hlm. 20:
“Perkataan kami yang kami berkata dengannya dan agama kami yang kami beragama dengan­nya: Berpegang teguh dengan Kitabulloh Robb kami ‘Azza wa Jalla dan dengan Sunnah Nabi kami Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan apa yang diriwayatkan dari orang-orang yang mulia para sahabat, tabi’in, dan para imam hadits dan kami dengan hal itu berpegang teguh dan dengan apa yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal—semoga Alloh mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan melimpahkan pahalanya—kami mengatakan dan dengan apa yang menyelisihinya kami menyelisihi … dan bahwasanya Alloh Subhanahu memiliki wajah dengan tanpa kaifiyat sebagaimana Alloh berfirman:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. ar-Rohman [55]: 27).”

Perkataan al-Imam Abul Hasan al-Asy ’ari di atas jelas menunjukkan kembalinya beliau kepada aqi-dah salaf . Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullah mengomentari perkataan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari di atas dengan mengatakan:

“Maka telaah— semoga Alloh merahmati ka­lian— aqidah ini alangkah jelasnya dan alangkah gamblangnya, akuilah keutamaan imam yang alim ini yang telah mensyarahnya dan menjelaskannya, dan lihatlah kemudahan lafazhnya maka alangkah fasihnya dan bagusnya, dan jadilah termasuk orang-orang yang Alloh berfirman tentang mereka:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. (QS, az-Zumar [39]: 18)

Dan jelaslah keutamaan Abul Hasan dan akui­lah keadilannya dan dengarkanlah dia menyifati Ahmad dengan keutamaan, dan dia mengakuinya, agar kalian mengetahui bahwa keduanya sepakat di dalam aqidah, dan tidak berpisah di dalam pokok-pokok agama dan madzhab Sunnah.” (Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 163)

PENUTUP

Itulah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat buku ini. Sebetulnya masih banyak hal-hal lain dari syubhat-syubhat buku ini yang perlu dijelaskan, tetapi insya Alloh yang telah kami paparkan di atas sudah bisa memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya buku ini. Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat dan mengikutinya. Amin.



[i] Diriwayatkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod: 3/527 no. 930 dan adz-Dzahabi dalam al-’Uluw Lil ‘Aliyil Ghoffar: 1/139-140 dan dikatakan shohih sanadnya oleh Syaikh al-Albani di dalam Mukhtashor al-’Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar hlm. 142 no. 134
[ii] (al-Furqon Baina Auliya’ur Rahman wa Aulya’usy Syaithon: 1/244)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar