Kamis, 12 Juni 2014

HADITS PALSU: KEUTAMAAN SURAT YAASIN

 Penulis: Rizki Maulana
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:



Telah menyebar hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan surat Yasin. Akan tetapi, sangat disayangkan kebanyakan kita tidak mengetahui keadaan hadits tersebut; apakah shahih, dha'if, atau maudhu' (palsu)? Nah, pada kesempatan kali ini, penulis mencoba untuk membahasnya dengan merujuk takhrij Ahli Hadits tentang hadits-hadits tersebut. Semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.

Hadits Pertama,

مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ {يس} غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ
"Barang siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari Jum'at, lalu ia membaca di dekat keduanya atau salah satunya surat Yasin, maka akan diampuni dosanya sebanyak setiap ayatnya atau hurufnya."

Hadits di atas menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 50 adalah maudhu' (palsu). Ia (Al Albani) berkata, "Diriwayatkan oleh Ibnu 'Addiy (1/286), Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbahan (2/344-345), Abdul Ghani dalam As Sunan (2/91) dari jalan Abu Mas'ud Yazid bin Khalid, telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim Ath Thaa'ifiy dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah dari Abu Bakar Ash Shiddiq secara marfu'. Sebagian Ahli Hadits mencatat –menurut Al Albani adalah Ibnul Muhib atau Adz Dzahabiy- pada hamisy (catatan pinggir) naskah Sunan Al Maqdisi, "Hadits ini tidak sah."


Ibnu 'Addiy berkata, "Batil. Tidak ada asal untuk isnad ini."

Ia menyebutkan dalam biografi 'Amr bin Ziyad ini, yaitu Abul Hasan Ats Tsaubani di samping hadits-haditsnya yang lain. Ia (Ibnu 'Addiy) berkata tentang salah satu haditsnya, "Maudhu' (palsu)." Lalu ia berkata, "Amr bin Ziyad memiliki hadits yang lain selain ini, di antaranya ada yang berupa hasil curian yang ia curi dari orang-orang tsiqah, dan di antaranya pula ada yang maudhu', dan ia sendiri tertuduh memalsukan hadits."

Daruquthni berkata, "Ia (Amr bin Ziyad) memalsukan hadits."

Al Albani berkata di akhir pembahasan, "Hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya membaca Al Qur'an di dekat kuburan, namun tidak tidak ada dalam As Sunnah yang shahih yang mendukung hal itu. Bahkan As Sunnah menunjukkan, bahwa yang disyariatkan ketika ziarah kubur adalah mengucapkan salam kepada mereka dan mengingat akhirat saja. Dan seperti itulah yang dilakukan kaum salafush shalih radhiyallahu 'anhum. Oleh karena itu, membaca Al Qur'an di dekatnya adalah bid'ah yang dibenci sebagaimana yang ditegaskan oleh jamaah para ulama terdahulu, di antaranya: Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam sebuah riwayat sebagaiman disebutkan dalam Syarhul Ihya' karya Az Zubaidiy (2/285). Ia (Az Zubaidiy) juga berkata, "Karena tidak ada Sunnahnya."

*****


Hadits Kedua,

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس، مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ
"Sesungguhnya segala sesuatu mempunyai jantung, dan sesungguhnya jantung Al Qur'an adalah Yaasiin. Barang siapa yang membacanya, maka seakan-akan ia membaca Al Qur'an sepuluh kali."

Hadits ini menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 169 adalah maudhu' (palsu). Ia (Al Albani) berkata, "Dikeluarkan oleh Tirmidzi (4/46), Darimiy (2/456) dari jalan Humaid bin Abdurrahman dari Al Hasan bin Shalih dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan dari Qatadah dari Anas secara marfu'. Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya selain dari jalan ini, sedangkan Harun Abu Muhammad adalah majhul. Tentang hal ini juga ada riwayat dari Abu Bakar Ash Shiddiq, namun tidak sah, dan isnadnya dha'if, demikian juga ada riwayat dari Abu Hurairah."

Al Albani juga berkata, "Demikianlah yang ada pada naskah Sunan Tirmidzi kami, yaitu bahwa haditsnya hasan gharib. Al Mundziriy menukil dalam At Targhib (2/322), demikian pula Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (3/563), dan Al Hafizh dalam At Tahdzib, ia berkata, "Hadits gharib, tidak ada nukilan mereka dari Tirmidzi, bahwa ia menghasankan." Mungkin saja ini yang benar, karena hadits tersebut dha'if dan tampak kedhaifannya, bahkan maudhu' karena adanya Harun. Bahkan Al Hafizh Adz Dzahabi berkata dalam biografinya setelah menukil pernyataan majhul dari Tirmidzi, "Saya mengatakan, "Saya menuduhnya berdasarkan riwayat Al Qadha'iy dalam Syihabnya.

Lalu ia menyebutkan hadits ini." Al Albani berkata, "Hadits tersebut ada dalam kitab itu dengan nomor 1035."

Dalam Al 'Ilal (2/55-56) karya Ibnu Abi Hatim disebutkan, "Saya bertanya kepada ayah saya tentang hadits ini, lalu ia menjawab, "Muqatil di sini adalah Muqatil bin Sulaiman. Aku melihat hadits ini di awal kitab yang dipalsukan oleh Muqatil bin Sulaiman. Itu adalah hadits batil yang tidak ada asalnya."

Al Albani berkata, "Demikianlah yang ditegaskan Abu Hatim –ia adalah imam dan hujjah-, yaitu bahwa Muqatil yang disebutkan dalam isnad itu adalah Ibnu Sulaiman, sedangkan dalam Tirmidzi dan Darimiy adalah Muqatil bin Hayyan sebagaimana yang anda lihat. Mungkin saja itu adalah kesalahan dari sebagian rawi. Ditambah lagi, bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Al Qadha'iy sebagaimana disebutkan sebelumnya, dan oleh Abul Fat-hi Al Azdiy dari jalan Humaid Ar Ruaasiy dengan sanad sebelumnya dari Muqatil dari Qatadah. Seperti itulah kata-katanya, yakni dari Muqatil tanpa menyebutkan nasabnya, lalu sebagian rawi mengira bahwa Muqatil di situ adalah Ibnu Hayyan, kemudian ia nisbatkan kepadanya. Di antaranya adalah Al Azdiy sendiri, dimana ia menyebutkan dari Waki', bahwa ia berkata tentang Muqatil bin Hayyan, "Dihubungkan kepada dusta." Adz Dzahabi berkata, "Demikianlah yang dikatakan Abul Fat-h, namun saya kira, samar baginya antara Muqatil bin Hayyan dengan Muqatil bin Sulaiman. (Muqatil) Ibnu hayyan adalah shaduq (sangat jujur) dan kuat haditsnya. Sedangkan yang didustakan oleh Waki' adalah (Muqatil) ibnu Sulaiman."

Al Albani juga berkata, "Lalu Abul Fath menyebutkan isnad hadits itu sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, kemudian Adz Dzahabiy mengomentarinya dengan perkataan, "Menurutku, yang tampak adalah bahwa dia Muqatil bin Sulaiman."

*****

Hadits Ketiga,

مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ، فَقَرَأَ سُوْرَةَ (يس) خُفِّفَ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ، وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيْهَا حَسَنَاتٍ
"Barang siapa yang masuk ke pemakaman, lalu membaca surat Yaasiin, maka akan diringankan derita penghuninya ketika itu, dan ia memperoleh kebaikan sejumlah penghuni yang ada di dalamnya."

Hadits ini menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 1246 adalah maudhu' (palsu). Ia (Al Albani) berkata, "Dikeluarkan oleh Ats Tsa'labiy dalam tafsirnya (3/161/2) dari jalan Muhammad bin Ahmad Ar Rayyahiy, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Mudrik dari Abu Ubaidah dari Al Hasan dari Anas bin Malik secara marfu'."

Al Albani berkata, "Isnad ini gelap, binasa dan cacatnya bersambung;
Pertama, Abu Ubaidah, menurut Ibnu Ma'in adalah majhul.

Kedua, Ayyub bin Mudrik telah disepakati kedhaifannya dan ditinggalkan. Bahkan Ibnu Ma'in berkata, "Pendusta." Dalam sebuah riwayat darinya, "Ia berdusta." Ibnu Hibban berkata, "Ia meriwayatkan dari Makhul naskah palsu, namun tidak ia lihat." Aku (Al Albani) berkata, "Itu adalah musibah hadits ini."

Ketiga, Ahmad Ar Rayyaahi, ia adalah Ahmad bin Yazid bin Dinar Abul 'Awam. Baihaqi berkata, "Majhul," sebagaimana dalam Al Lisan, sedangkan anaknya yaitu Muhammad adalah shaduq (sangat jujur) yang disebutkan biografinya dalam Tarikh Baghdad (1/372)."

*****

Hadits keempat,

مَنْ كَتَبَ (يس) ثُمَّ شَرِبَهَا؛ دَخَلَ جَوْفَهُ أَلْفُ نُوْرٍ، وَأَلْفُ رَحْمَةٍ، وَأَلْفُ بَرَكَةٍ، وَأَلْفُ دَوَاءٍ، أَوْ خَرَجَ مِنْهُ أَلْفُ دَاءٍ
"Barang siapa yang menulis "Yaasiin" kemudian meminumnya, maka akan masuk ke dalam perutnya seribu cahaya, seribu rahmat, seribu keberkahan, dan seribu obat atau keluar darinya seribu penyakit."

Hadits ini menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 3293 adalah maudhu' (palsu). Ia (Al Albani) berkata, "Dikeluarkan oleh Ar Raafi'iy dalam Tarikhnya (3/96) dengan isnadnya yang gelap dari Al Ahwash bin Hakim dari Abu 'Aun dari Isma'il dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,…dst."


Al Albani berkata, "Ini adalah matan yang batil, tampak kebatilan dan kepalsuannya. Bisa jadi pemalsunya selain Al Ahwash, karena ia walaupun dha'if, namun tidak tertuduh memalsukan, meskipun Ibnu Hibban (1/175) berkata tentangnya, "Ia meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang masyhur. Ia mencela Ali bin Abi Thalib. (Oleh karena itu), Yahya Al Qaththan dan lainnya meninggalkannya."
Al Albani menjelaskan dalam Adh Dha'iifah, bahwa malapetakanya kemungkinan terletak pada gurunya, yaitu Abu 'Aun yang tidak dikenal, atau pada Al Harits Al A'war yang dituduh oleh sebagian mereka melakukan kedustaan. Adapun Abu Ishaq As Subai'i meskipun bercampur hapalan, namun kemungkinannya jauh jika dinisbatkan hadits yang batil ini kepadanya. Oleh karena itu, tindakan buruk, bisa dari gurunya atau orang di bawahnya, wallahu a'lam.

*****

Hadits Kelima,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ (يس) فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ؛ غُفِرَ لَهُ
"Barang siapa yang membaca surat Yaasiin pada malam Jum'at, maka akan diampuni dosanya."
Hadits ini menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 5111 adalah dha'if jiddan (sangat lemah). Ia (Al Albani) berkata, "Dikeluarkan oleh Al Ashfahani dalam At Targhib wat Tarhib hal. 244 (hasil copy Al Jaami'ah) dari jalan Zaid bin Al Harisy, telah mengabarkan kepada kami Al Aghlab bin Tamim, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Al Hasan dari Abu Hurairah secara marfu'."

Al Albani juga berkata, "Dan ini adalah isnad yang dha'if sekali. Musibahnya terletak pada Al Aghlab bin Tamim. Ibnu Hibban (1/166) berkata, "Munkar haditsnya. Ia meriwayatkan dari orang-orang tsiqah hadits yang bukan hadits mereka, sehingga lepas dari dipakai hujjah karena banyak kesalahannya." Dan yang lain juga mendhaifkan. Adapun Zaid bin Al Harisy, Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat berkata, "Beberapa kali melakukan kesalahan." Ibnul Qaththan berkata, "Majhul keadaannya."

Menurut penulis, Sunnahnya; yang dibaca pada siang dan malam hari Jum'at adalah surat Al Kahfi, bukan surat Yasin. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi, maka akan bersinar cahaya untuknya selama jarak antara dua Jum'at." (HR. Hakim dan Baihaqi, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 6470)

Al Manawiy berkata, "Oleh karena itu, dianjurkan dibaca pada hari Jum'at, demikian juga malamnya sebagaimana dinyatakan Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu."

*****

Hadits Kelima,
مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ، فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ سُوْرَةُ (يس) ؛ إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ
"Tidak ada seorang mayit pun yang meninggal, lalu dibacakan di dekatnya surat Yasin, melainkan Allah 'Azza wa Jalla akan meringankannya."
Hadits tersebut menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 5219 adalah maudhu' (palsu). Ia (Al Albani) berkata, "Dikeluarkan oleh Ad Dailamiy dalam Musnad Al Firdaus (4/17) dari Abu Nu'aim secara mu'allaq. Hadits ini juga terdapat dalam Akhbar Ashbahan (1/188), Ar Ruyani dalam Musnadnya (1/31/1-yang disaring darinya) dari Abdul Hamid bin Abi Rawwad dari Marwan bin Salim dari Shafwan bin 'Amr dari Syuraih dari Abud Darda' dan Abu Dzar, dan ia memarfu'kannya."
Al Albani berkata, "(Hadits) ini adalah palsu. Musibahnya terletak pada Marwan (bin Salim) ini. Dua Syaikh dan Abu Hatim, "Munkar haditsnya." Abu 'Arubah Al Harraniy berkata, "Ia memalsukan hadits." As Saajiy berkata, "Pendusta dan memalsukan hadits."

*****

Hadits Keenam,

اِقْرَأُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ (يس)
"Bacakanlah untuk orang yang hampir mati di antara kamu surat Yasin."

Hadits ini menurut Syaikh Al Albani dalam Adh Dha'ifah no. 5861 adalah dha'if (lemah). Ia (Al Albani) berkata, "Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3121), Ibnu Majah (1448), Hakim (1/565), Ahmad (5/27), Abdul Ghaniy Al Maqdisiy dalam As Sunan (99/1-2, 105/1) dari Sulaiman At Taimiy dari Abu Utsman –bukan An Nahdiy- dari ayahnya dari Ma'qil bin Yasar secara marfu'. Al Maqdisiy berkata, "Hadits itu hasan gharib."

Al Albani berkata, "Sekali-kali tidak. Karena Abu Utsman ini adalah majhul sebagaimana dikatakan Ibnul Madiniy, demikian juga ayahnya; ia juga tidak dikenal. Di samping itu, dalam isnadnya terdapat kegoncangan sebagaimana saya terangkan dalam Al Irwaa' (688). Oleh karena itu, bagaimana hadits tersebut dikatakan hasan?"

Menurut penulis, yang sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika seseorang hendak meninggal adalah mengajarkan kepadanya ucapan Laailaahaillallallah sebagaimana dalam hadits berikut:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
"Ajarkanlah orang yang akan mati di antara kamu (mengucapkan) Laailaahaillallah." (HR. Ahmad, Muslim, dan Pemilik Kitab Sunan yang empat)

Hal itu, karena, barang siapa yang akhir ucapannya adalah adalah Laailaahaillallah, maka ia akan masuk surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laailaahaillallah, maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim dari Mu'adz, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 6479)

Demikian pembahasan singkat tentang hadits-hadits keutamaan surat Yasin dan masih banyak lagi hadits dhaif lainnya berkenaan dengan surat Yaasiin, namun apa yang kami sebutkan insya Allah sudah cukup.

Semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan tulisan ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Maraji: Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, Al Mausu'ah Al Haditsiyyah Al Mushaghgharah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar