Selasa, 03 Juni 2014

TANGGAPAN TERHADAP USTADZ IDRUS RAMLI: BENARKAH ATH-THABARANI, ABU SYAIKH DAN IBNUL MUQRI BERISTIGHATSA KEPADA NABI

Penulis: Rizki Maulana 

Alhamdulillah, telah berlalu dalam blog ini bahasan tentang ketidakvalidan kisah Istighaatsah An-Naabighah Al-Ja'di yang (katanya Ustadz Muhammad Idrus Ramli) beristighatsah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.[1] Kembali, kali ini kita akan meninjau apa gerangan yang telah dikatakan oleh Ustadz Muhammad Idrus Ramli perihal Ath-Thabaraaniy, Ibnul-Muqri’, dan Abusy-Syaikh rahimahumullah. Ia (Ustadz Muhammad Idrus Ramli) berkata :
Ketiga) Tiga orang hafizh dan imam ahli hadits terkemuka pada masanya yaitu al-Hafizh Abu al-Qasim al-Thabarani (260-360 H/874-971 M) pengarang al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath, al-Mu’jam al-Shaghir dan lain-lain, al-Hafizh Abu al-Syaikh al-Ashbihani (274-369 H/897-979 M) pengarang Kitab al-Tsawab dan al-Hafizh Abu Bakar bin al-Muqri’ al-Ashbihani (273-381 H/896-991 M) melakukan istighatsah dengan Rasulullah SAW dalam kisah berikut:
قَالَ اْلإِمَامُ أَبُوْ بَكْرٍ بْنِ الْمُقْرِئِ: كُنْتُ أَنَا وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو الشَّيْخِ فِيْ حَرَمِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَكُنَّا عَلَى حَالَةٍ وَأَثَّرَ فِيْنَا الْجُوْعُ وَوَاصَلْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ، فَلَمَّا كَانَ وَقْتُ الْعِشَاءِ حَضَرْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْجُوْعَ الْجُوْعَ، وَانْصَرَفْتُ. فَقَالَ لِيْ أَبُو الْقَاسِمِ: اِجْلِسْ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ الرِّزْقُ أَوْ الْمَوْتُ، قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: فَنِمْتُ أَنَا وَأَبُو الشَّيْخِ وَالطَّبَرَانِيُّ جَالِسٌ يَنْظُرُ فِيْ شَيْءٍ فَحَضَرَ فِي الْبَابِ عَلَوِيٌّ فَدَقَّ فَفَتَحْنَا لَهُ فَإِذًا مَعَهُ غُلاَمَانِ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا زَنْبِيْلٌ فِيْ شَيْءٍ كَثِيْرٍ، فَجَلَسْنَا وَأَكَلْنَا، قَالَ الْعَلَوِيُّ: يَا قَوْمُ أَشَكَوْتُمْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَنَامِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَحْمِلَ بِشَيْءٍ إِلَيْكُمْ. رواه الحافظ ابن الجوزي في الوفا بأحوال المصطفى (ص/818)، والحافظ الذهبي في تذكرة الحفاظ (3/973) وتاريخ الإسلام (ص/2808).
“Al-Imam Abu Bakar bin al-Muqri’ berkata: “Saya berada di Madinah bersama al-Hafizh al-Thabarani dan al-Hafizh Abu al-Syaikh. Kami dalam kondisi prihatin dan sangat lapar, selama satu hari satu malam belum makan. Setelah waktu isya’ tiba, saya mendatangi makam Rasulullah SAW. Lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, kami lapar, kami lapar (tolonglah kami)”. Dan saya segera pulang. Lalu al-Hafizh Abu al-Qasim al-Thabarani bertaka: “Duduklah, kita tunggu datangnya rezeki atau kematian”. Abu Bakar berkata: “Lalu aku dan Abu al-Syaikh tidur. Sedangkan al-Thabarani duduk sambil melihat sesuatu. Tiba-tiba datanglah laki-laki ‘Alawi (keturunan Nabi SAW) dan mengetuk pintu. Kami membukakan pintu untuknya. Ternyata ia bersama dua orang budaknya yang masing-masing membawa keranjang penuh dengan makanan. Lalu kami duduk dan makan bersama. Lalu laki-laki ‘Alawi itu berkata; “Hai kaum, apakah kalian mengadu kepada Rasulullah SAW? Aku bermimpi Rasulullah SAW dan menyuruhku membawakan makanan untuk kalian”.
Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M) dalam al-Wafa bi-Ahwal al-Mushthafa (hal. 818), al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffazh (3/973), dalam Tarikh al-Islam (hal. 2808) dan disebutkan oleh Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin (hal. 805).
Dalam kisah di atas, jelas sekali al-Imam al-Hafizh Ibnu al-Muqri’ al-Ashbihani tersebut, dengan sepengetahuan kedua rekannya al-Imam al-Thabarani dal al-Imam Abu al-Syaikh, ber-istighatsah dengan Nabi SAW ketika kelaparan. Dan tidak satupun dari ulama yang menilai ketiga imam tersebut telah syirik, kafir dan murtad, sebagaimana dalam keyakinan kaum Wahabi dewasa ini. Sudah pasti, dalam pandangan Wahabi, ketiga Imam hadits di atas, dan para ulama yang membenarkan mereka seperti Ibnu al-Jauzi, al-Dzahabi dan lain-lain, akan dicap sebagai Quburiyyun, penyembah kuburan. Tentu karena pandangan Wahabi yang salah dan batil, sebagai akibat taklid buta kepada Muhammad bin Abdul Wahhab yang telah kami buktikan kebohongannya, dan belum dijawab oleh para ustadz Wahabi.
[selesai kutipan].
Begitulah katanya.... dan itu keliru !!.
Pertama, saya nasihatkan kepada Muhammad Idrus Ramli apabila beliau ingin berhujjah dan berdalil, pakailah riwayat yang shahih-shahih saja. Tidak usah memakai riwayat yang lemah, apalagi lemah sekali. Karena, riwayat lemah itu merupakan indikasi ketidakbenaran riwayat.
Kedua, riwayat itu – alhamdulillah – berhasil saya baca dari buku Al-Wafaa’ bi-Ahwaalil-Mushthafaa atau sering juga disebut Al-Wafaa’ bi-Ta’riifi Fadlaailil-Mushthafaa karya Ibnul-Jauziy, serta Siyaru A’laamin-Nubalaa’, Taariikhul-Islaam, dan Tadzkiratul-Huffaadh yang ketiganya karya Adz-Dzahabiy rahimahumallah.
Ketiga, dalam sumber-sumber yang disebutkan di atas, riwayat tersebut sama sekali tidak disebutkan sanadnya. Ibnul-Jauziy rahimahullah dalam kitabnya berkata :
عن أبي المِنْقَريّ قال: كنت أنا والطَّبَراني، وأبو الشيخ في حَرَم رسول الله صلى الله عليه وسلم وكنا على حالة، فأثَّر فينا الجوع.......
Dari Abul-Minqariy, ia berkata : “Dulu aku, Ath-Thabaraaniy, dan Abusy-Syaikh pernah di tanah Haram Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Madiinah) dalam kondisi prihatin dan sangat lapar…..dst.”.
Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar dan Tadzkiratul-Huffaadh berkata :
وروي عن أبي بكر بن أبي علي، قال: كان ابن المقرئ يقول: كنت أنا والطبراني، وأبو الشيخ بالمدينة،.....
Dan diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi ‘Aliy, ia berkata : Ibnul-Muqri’ berkata : “Dulu aku, Ath-Thabaraaniy, dan Abusy-Syaikh pernah berada di Madiinah…..”.
Adapun dalam Taariikhul-Islaaam, Adz-Dzahabiy berkata : ‘an Abi Bakr bin Abi ‘Aliy dst.
Siapakah yang bercerita ?. Menurut Ibnul-Jauziy yang bercerita adalah Abul-Minqariy, sedangkan menurut Adz-Dzahabiy adalah Ibnul-Muqri’.
Kemudian,… mari kita lihat masa masing-masing pelaku peristiwa dan penuturnya :
a.     Ath-Thabaraaniy lahir tahun 260 H dan wafat tahun 360 H,
b.     Ibnul-Muqri’ lahir tahun 285 H dan wafat tahun 381 H,
c.      Abusy-Syaikh, lahir tahun 274 H dan wafat tahun 369 H,
d.     Abu Bakr bin Abi ‘Aliy (namanya adalah : Abu Bakr, Muhammad bin Abi ‘Aliy Ahmad bin ‘Abdirrahmaan bin Muhammad bin ‘Umar bin Hafsh Al-Hamdaaniy Adz-Dzakwaaniy Al-Ashbahaaniy[2]) lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H,
e.     Ibnul-Jauziy, lahir tahun 510 H dan wafat tahun 597 H, dan
f.      Adz-Dzahabiy, lahir tahun 671 dan wafat tahun 748 H.
Mari kita cermati bersama,…… ternyata riwayat di atas terputus sanadnya beberapa generasi. Selisih tahun kematian Abu Bakr bin ‘Aliy dan kelahiran Ibnul-Jauziy rahimahullah hampir satu abad. Apalagi dengan Adz-Dzahabiy rahimahumullah. Jelas kisah ini tidak shahih. Oleh karena itu, Adz-Dzahabiy rahimahullah ketika membawakan riwayat tersebut dengan shighah tamriidl yang menunjukkan kelemahan riwayat.
Bukankah Ibnul-Jauziy dan Adz-Dzahabiy rahimahumallah adalah dua imam yang tsiqah ?. Jawab : Benar, akan tetapi riwayat yang dibawakan oleh orang-orang tsiqaat tidak serta-merta menunjukkan kepastian bahwa riwayatnya shahih. Lihat saja dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah dimana sebagian riwayatnya dihukumi lemah karena adanya keterputusan sanad (inqithaa’), baik mursal maupun mu’dlal. Apalagi riwayat ini yang keterputusan antara perawinya sangat jauh ?!!.
Dan ingat, baik Ibnul-Jauziy dan Adz-Dzahabiy rahimahumallah hanya sekedar membawakan riwayat, bukan dalam konteks berhujjah. Seandainya pun mereka berdua berhujjah dengan riwayat itu – padahal tidak – dalam keadaan kita tahu akan ketidakvalidannya, maka kita tentu tahu bagaimana sikap yang seharusnya kita ambil (yaitu menolaknya). Dan seandainya riwayat itu shahih sekalipun (padahal tidak shahih), maka yang mereka lakukan menyelisihi nash dan apa yang diperbuat oleh salaf.
Allah ta’ala berfirman :
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar[3]” [QS. Faathir: 22].
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” [QS. An-Naml : 62].
Dulu, ketika ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu ditimpa kelaparan dan masa paceklik hebat, ia tidak mendatangi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, berkeluh kesah dan meminta-minta kepada beliau. Yang dilakukan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu mendatangi ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu dan bertawassul melalui perantaraan doanya, yaitu ia (‘Umar) berkata :
اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا.....
“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan (doa) Nabi-Mu, Engkau pun menuruhkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan (doa) paman Nabi kami, maka berilah kami hujan….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1010 & 3710].
Kecuali bagi mereka yang punya slogan ‘pokoknya’ hingga punya komitmen apa saja dipakai asal mendukung, maka saat kita tidak sedang berkomunikasi mereka. Kita hanya berkomunikasi dengan orang yang memperhatikan keotentikan riwayat yang mereka ambil dan ketepatannya dijadikan hujjah.
Semoga informasi ini ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar