Jumat, 11 Juli 2014

MACAM-MACAM KEKUFURAN AKBAR (BESAR)

Penulis: Rizki Maulana 

1.     Kufur inkaar dan takdziib.
Al-Imaam Al-Baghawiy rahimahullah mendefinisikannya sebagai :
كفر الإنكار هو : ألَّا يعرف الله أصلًا، ولا يعترف به، وكفر به
“Kufur inkaar adalah tidak mengetahui Allah sama sekali, tidak mengakui-Nya, dan mengkufuri-Nya” [Tafsiir Al-Baghawiy, 1/48].
Asy-Syarbiiniy rahimahullah juga mengatakan yang semisal di atas [Tafsiir As-Siraajul-Muniir, 1/23].

 
Ar-Raaghib Al-Asfahaaniy rahimahullah berkata “
الإنكار : ضد العرفان، يقال : أنكرت كذا ونكرت، وأصله : أن يرد على القلب ما لا يتصوره، وذلك ضرب مثل الجهل
Inkaar adalah kebalikan dari pengetahuan. Dikatakan : ankartu kadzaa wa nakartu. Asalnya adalah : masuknya ke dalam hati sesuatu yang tidak diketahuinya. Hal itu semisal dengan al-jahl” [Al-Mufradaat, hal. 830].
Kufur inkaar serupa dengan kufur takdziib dalam definisi Ibnul-Qayyim rahimahullah. Kufur takdziib ini adalah keyakinan mendustakan para Rasul. Ia berkata :
فأما كفر التكذيب : فهو اعتقاد كذب الرسل وهذا القسم قليل في الكفار فإن الله تعالى أيد رسله وأعطاهم من البراهين والآيات على صدقهم ما أقام به الحجة وأزال به المعذرة
“Adapun kufur takdziib adalah meyakini kedustaan Rasul. Jenis kekufuran ini sedikit terjadi pada orang-orang kafir, karena Allah ta’ala telah menolong para rasul-Nya dan memberi mereka berbagai keterangan dan mukjizat atas kebenaran mereka, yang dapat tegak dengannya hujjah dan menghilangkan alasan/dalih (yang tidak benar)” [Madaarijus-Saalikiin, 1/337].[1]
Pendustaan dengan lisan itu bersumber dari pendustaan hati, dan pendustaan hati ini kembalinya karena ketidaktahuan hati dan ketidaktahuan akan kebenaran Rasul.
Kekufuran ini disebut juga kufur jahl (kebodohan) menurut Al-Hakamiy dilihat dari penyebabnya, karena al-jahl (kebodohan) semakna dengan kata al-inkaar (ketidaktahuan).
2.     Kufur juhuud.
Al-Baghawiy rahimahullah mendefinisikan :
هو أن يعرف الله بقلبه ولا يعترف بلسانه
“Kufur juhuud adalah mengenal Allah dengan hatinya, namun tidak mengakui dengan lisannya” [Tafsiir Al-Baghawiy, 1/48].
Ibnul-Atsiir rahimahullah berkata :
هو أن يعرف الله تعالى، ولا يقر بلسانه
“Kufur juhuud adalah mengetahui Allah ta’ala, namun tidak mengakui/mengikrarkan dengan lisannya” [An-Nihaayah, hal. 806].
Haafidh Al-Hakamiy rahimahullah berkata :
وإن كتم الحق مع العلم بصدقه فكفر جحود وكتمان
“Dan apabila seseorang menyembunyikan kebenaran bersamaan dengan pengetahuannya tentang kebenarannya, maka hal itu disebut kufur juhuud dan kitmaan (menyembunyikan kebenaran)” [Ma’aarijul-Qabuul, 2/593].
Kekufuran ini adalah seperti kekufuran Fir’aun, sebagaimana firman Allah ta’ala tentangnya dan juga kaumnya :
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Dan mereka mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya” [QS. An-Naml : 14].
Begitu juga dengan kekufuran orang Yahudi, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala :
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ
Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya” [QS. Al-Baqarah : 89].
Sebagian ulama, seperti Al-Baghawiy, Ibnul-Atsaiir, dan yang lainnya, menggolongkan kekafiran Iblis adalah kekafiran pada jenis ini. Namun, ini perlu ditinjau kembali, dengan dasar firman Allah ta’ala :
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Berkata Iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan" [QS. Al-Hijr : 36].
Perkataan Iblis ini menunjukkan bahwa Iblis tahu kebenaran dan juga mengikrarkannya. Iblis mengetahui eksistensi Allah, kekuasaan-Nya untuk mencabut nyawa makhluk, dan membangkitkannya di hari kiamat. Oleh karena itu, Ibnul-Qayyim rahimahullah mengolongakan kekufuran Iblis ini sebagai kufur ibaa’ (penolakan) dan istikbaar (kesombongan).
Ada dua macam kufur juhuud sebagaimana dijelaskan Ibnul-Qayyim rahimahullah :
وكفر الجحود نوعان : كفر مطلق عام وكفر مقيد خاص فالمطلق : أن يجحد جملة ما أنزله الله وإرساله الرسول والخاص المقيد : أن يجحد فرضا من فروض الإسلام أو تحريم محرم من محرماته أو صفة وصف الله بها نفسه أو خبرا أخبر الله به عمدا أو تقديما لقول من خالفه عليه لغرض من الأغراض
“Kufur juhuud ada dua macam : kufur mutlak lagi umum, dan kufur muqayyad lagi khusus. Kufur mutlak adalah menolak semua yang diturunkan Allah dan diutusnya Rasul. Kufur khusus lagi muqayyad : menolak kewajiban dari kewajiban-kewajiban dalam syari’at Islam atau (menolak) keharaman dari kaharaman-keharaman dalam syari’at Islam, atau (menolak) sifat yang telah Allah sifatkan dengannya untuk diri-Nya, atau (menolak) khabar yang telah Allah khabarkan dengannya secara sengaja atau mendahulukan perkataan orang yang menyelisihinya untuk satu tujuan tertentu” [Madaarijus-Saalikiin, 1/338].[2]
3.     Kufur ‘inaad dan istikbaar.
Al-Azhariy menukil dari Al-Laits, bahwasannya ia berkata :
وهو أن يعرف الشئ ويأبى أن يقبله؛ ككفر أبي طالب، كان كفره مُعاندة؛ لأنه عرف وأقرّ وأنف أن يقال: تبع ابن أخيه، فصار بذلك كافراً
“Mengetahui sesuatu sesuatu namun enggan untuk menerimanya, seperti kekufuran Abu Thaalib. Kekufurannya itu adalah kufur ‘inaad, karena ia mengetahui kebenaran dan mengakuinya. Ia enggan disebut (oleh orang-orang Qurasiy) : pengikut anak saudara laki-lakinya. Maka dengan hal itu ia menjadi kafir” [Tahdziibul-Lughah, 3/2589].
Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
وكفر العناد هو: أن يعرف الله بقلبه ويعترف بلسانه ولا يدين به ككفر أبي طالب حيث يقول:
ولقد علمت بأن دين محمد ... من خير أديان البرية دينا
لولا الملامة أو حذار مسبة ... لوجدتني سمحا بذاك مبينا
“Dan kufur ‘inaad adalah mengetahui Allah dengan hatinya dan mengakuinya dengan lisannya, namun tidak beragama dengannya, seperti kekufuran Abu Thaalib ketika ia berkata :
Dan sungguh aku tahu bahwa agama Muhammad
adalah sebaik-baik agama manusia
Seandainya bukan karena celaan atau khawatir cacian
niscaya engkau akan dapati aku sukarela menerima agamamu[3]” [Tafsiir Al-Baghawiy, 1/48].
Ibnul-Atsiir rahimahullah mendefiniskkannya sebagai berikut :
وهو أنْ يَعْتَرف بقَلْبه ويَعْتَرف بِلِسانه ولا يَدِين به حَسَداً وبَغْياً ككُفْر أبي جَهْل وأضْرَابه
“Mengakui (kebenaran) dengan hatinya, mengakuinya dengan lisannya, namun tidak beragama dengannya, baik karena hasad ataupun durhaka, seperti kufurnya Abu Jahl dan yang semisalnya” [An-Nihaayah, hal. 806].
Yang semakna dengan kufur ini adalah kufur istikbaar menurut pembagian Ibnul-Qayyim rahimahullah, karena definisi istikbaar adalah :
الامتناع عن قبول الحقِّ معاندة وتكَبُّراً
“Penolakan untuk menerima kebenaran dengan penentangan dan kesombongan (takabbur)” [Tahdziibul-Lughah, 4/3091].
Ibnul-Qayyim rahimahullah mendefinisikannya :
وأما كفر الإباء والاستكبار : فنحو كفر إبليس فإنه لم يجحد أمر الله ولا قابله بالإنكار وإنما تلقاه بالإباء والاستكبار ومن هذا كفر من عرف صدق الرسول وأنه جاء بالحق من عند الله ولم ينقد له إباء واستكبارا وهو الغالب على كفر
“Adapun kufur ibaa’ dan istikbaar, maka itu seperti kekufuran Ibliis. Iblis tidaklah mengingkari perintah Allah dan menerimanya dengan pengingkaran. (Kekufuran) Iblis hanyalah karena ia menerimanya dengan keengganan dan kesombongan. Dari hal tersebut, kufur hukumnya bagi orang yang mengetahui kebenaran Rasul bahwa beliau datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah, namun ia tidak memilihnya karena keengganan dan kesombongan. Inilah yang umum terjadi pada perkara kekufuran” [Madaarijus-Saalikiin, 1/337].
Pendek kata, kufur istikbaar dalam terminologi Ibnul-Qayyim rahimahullah ini sama maknanya dengan kufur ‘inaad yang disebutkan ulama lain. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Haafidh Al-Hakamiy rahimahullah menggabungkannya, dan berkata :
وإن انتفى عمل القلب وعمل الجوارح مع المعرفة بالقلب والاعتراف باللسان فكفر عناد واستكبار، ككفر إبليس وكفر غالب اليهود الذين شهدوا أن الرسول حقّ ولم يتبعوه
“Apabila amal hati dan amal jawaarih dinafikkan bersamaan dengan adanya pengetahuan hati dan pengakuan lisan, disebut kufur ‘inaad dan istikbaar, seperti kufurnya Iblis dan kekufuran umumnya orang-orang Yahudi yang bersaksi bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam benar, namun mereka tidak mau mengikutinya” [Ma’aarijul-Qabuul, 2/594].
Syaikhul-Islaam rahimahullah menjelaskan lebih lanjut :
أن العبد إذا فعل الذنب مع اعتقاد أن الله حرمه عليه و اعتقاد انقياد لله فيما حرمه و أوجبه فهذا ليس بكافر فأما إن اعتقد أن الله لم يحرمه أو أنه حرمه لكن امتنع من قبول هذا التحريم و أبى أن يذعن لله و ينقاد فهو إما جاحد أو معاند و لهذا قالوا : من عصى الله مستكبرا كإبليس كفر بالاتفاق و من عصى مشتهيا لم يكفر عند أهل السنة و الجماعة و إنما يكفره الخوارج فإن العاصي المستكبر و إن كان مصدقا بأن الله ربه فإن معاندته له و محادته تنافي هذا التصديق
 و بيان هذا أن من فعل المحارم مستحلا لها فهو كافر بالاتفاق فإنه ما آمن بالقرآن من استحل محارمه و كذلك لو استحلها من غير فعل و الاستحلال اعتقاد أن الله لم يحرمها و تارة بعدم اعتقاد أن الله حرمها هذا يكون لخلل في الإيمان بالربوبية و لخلل في الإيمان بالرسالة و يكون جحدا محضا غير مبني على مقدمة و تارة يعلم أن الرسول إنما حرم ما حرمه الله ثم يمتنع عن التزام هذا التحريم و يعاند المحرم فهذا أشد كفرا ممن قبله و قد يكون هذا مع علمه أن من لم يلتزم هذا التحريم عاقبة الله و عذبه
“Bahwasannya seorang hamba apabila melakukan dosa bersamaan dengan keyakinannya bahwa Allah mengharamkan perbuatan tersebut padanya, dan keyakinan wajibnya tunduk/patuh kepada Allah (untuk menjauhi) terhadap segala yang dilarang-Nya dan (melaksanakan) yang diwajibkan-Nya, maka ini tidaklah kafir. Adapun jika orang tersebut berkeyakinan bahwa Allah tidak mengharamkannya, atau Allah mengharamkannya akan tetapi menolak menerima keharaman ini dan enggan tunduk/mematuhi Allah, maka ia seorang yang kafir juhuud (ingkar) atau ‘inaad (menentang). Oleh karena itu mereka berkata : Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dengan kesombongan (istikbaar) seperti Iblis, maka ia kufur berdasarkan kesepakatan. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah karena hawa nafsu, maka ia tidak dikafirkan menurut madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, akan tetapi Khawaarij mengkafirkannya. Hal itu dikarenakan seorang yang berbuat maksiat dengan kesombongan, meskipun ia membenarkan Allah adalah Rabbnya, maka sesungguhnya penentangan dan penolakannya itu bertentangan dengan pembenaran (tashdiiq) ini”.
و بيان هذا أن من فعل المحارم مستحلا لها فهو كافر بالاتفاق فإنه ما آمن بالقرآن من استحل محارمه و كذلك لو استحلها من غير فعل و الاستحلال اعتقاد أن الله لم يحرمها و تارة بعدم اعتقاد أن الله حرمها هذا يكون لخلل في الإيمان بالربوبية و لخلل في الإيمان بالرسالة و يكون جحدا محضا غير مبني على مقدمة و تارة يعلم أن الرسول إنما حرم ما حرمه الله ثم يمتنع عن التزام هذا التحريم و يعاند المحرم فهذا أشد كفرا ممن قبله و قد يكون هذا مع علمه أن من لم يلتزم هذا التحريم عاقبة الله و عذبه
“Dan penjelasan hal ini adalah : Barangsiapa melakukan perbuatan yang diharamkan dengan keyakinan akan kehalalannya (istihlaal), maka ia kafir berdasarkan kesepakatan. Sebab, tidaklah disebut beriman kepada Al-Qur’an orang yang menghalalkan keharaman-Nya. Dan begitu juga, seandainya ia menghalalkannya meskipun tidak melakukannya (maka tetap kafir hukumnya). Dan istihlaal adalah keyakinan bahwa Allah tidak mengharamkannya. Kadangkala, ketiadaan keyakinan bahwa Allah mengharamkannya dikarenakan adanya kerusakan imannya terhadap Rububiyyah, karena kerusakan imannya terhadap risalah, atau karena pengingkaran (juhuud) murni yang tanpa adanya faktor yang medahuluinya. Dan kadangkala pula, ia mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanyalah mengharamkan apa-apa yang diharamkan Allah, lalu ia menolak untuk iltizaam (berpegang) pada keharaman, dan bahkan menentang keharaman tersebut. Hal ini lebih kufur dari yang sebelumnya. Hal ini kadang terjadi dengan pengetahuannya barangsiapa yang tidak berpegang (untuk menjauhi) keharaman ini, akan dihukum dan diadzab oleh Allah”.
ثم إن هذا الامتناع و الإباء إما لخلل في اعتقاد حكمة الآمر و قدرته فيعود هذا إلى عدم التصديق بصفة من صفاته و قد يكون مع العلم بجميع ما يصدق به تمردا أو اتباعا لغرض النفس و حقيقة كفر هذا لأنه يعترف لله و رسوله بكل ما أخبر به و يصدق بكل ما يصدق به المؤمنون لكنه يكره ذلك و يبغضه و يسخطه لعدم موافقته لمراده و مشتهاه و يقول : أنا لا أقر بذلك و لا ألتزمه و أبغض هذا الحق و أنفر عنه فهذا نوع من غير النوع الأول و تكفير هذا معلوم بالاضطرار من دين الإسلام و القرآن مملوء من تكفير مثل هذا النوع بل عقوبته أشد و في مثله قيل : [ أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه ] ـ و هو إبليس و من سلك سبيله ـ و بهذا يظهر الفرق بين العاصي فإنه يعتقد وجوب ذلك الفعل عليه و يحب أنه يفعله لكن الشهوة و النفرة منعته من الموافقة فقد أتى من الإيمان بالتصديق و الخضوع و الانقياد و ذلك قول لكن لم يكمل العمل
“Kemudian, sesungguhnya penolakan dan keengganan ini, mungkin disebabkan karena kerusakan pada keyakinan hikmah dan kekuasaan Allah ta’ala. Maka hal ini kembali pada peniadaan tashdiiq (pembenaran) terhadap sifat dari sifat-sifat-Nya. Kadangkala hal ini dilakukan dengan keberadaan ilmu/pengetahuan terhadap seluruh perkara yang ia benarkan/imani, namun ia durhaka atau mengikuti keinginan hawa nafsunya. Dan hakekat perbuatan ini adalah kekufuran, karena ia mengakui apa yang dikhabarkan Allah dan Rasul-Nya, dan membenarkan semua perkara yang dibenarkan oleh kaum mukminin, akan tetapi ia malah benci, sebel, dan murka padanya karena adanya ketidaksesuaian pada keinginan dan hawa nafsunya. Orang tersebut berkata : ‘Aku tidak mengakuinya, tidak akan menjalankannya, aku membenci kebenaran ini dan akupun lari/menghindar darinya’. Jenis kekufuran ini beda dengan jenis kekufuran yang disebut di awal, dan kekafirannya sudah ma’lum lagi aksiomatik dalam agama Islam. Dan Al-Qur’an dipenuhi dengan bentuk pengkafiran semacam ini, dan bahkan hukumannya lebih keras. Dan yang semisal jenis ini adalah dikatakan dalam hadits : ‘Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah seorang yang ‘aalim yang tidak Allah jadikan bermanfaat ilmunya’.[4] Ia adalah Iblis dan orang-orang yang mengikuti jalannya. Dan dengan hal ini nampaklah perbedaan (golongan terebut) dengan orang yang bermaksiat, karena orang yang bermaksiat masih berkeyakinan kewajiban perbuatan tersebut padanya dan wajib baginya untuk melakukannya, akan tetapi hawa nafsu dan orang-orang yang ada di sekelilingnya mencegahnya untuk melakukannya. Ia memiliki keimanan berupa pembenaran (tashdiiq), rasa tunduk dan patuh serta perkataan tentang hal tersebut, akan tetapi keimanannya tidak disempurnakan dengan amal” [Ash-Shaarimul-Masluul, hal. 521-522].
Dalil kekufuran ini adalah firman Allah
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Berkata Iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan" [QS. Al-Hijr : 36].
4.     Kufur nifaaq.
Al-Baghawiy rahimahullah berkata dalam pendefinisiannya :
وأما كفر النفاق فهو أن يقر باللسان ولا يعتقد بالقلب
“Adapun kufur nifaaq, maka ia mengucapkan dengan lisannya, namun tidak meyakininya dalam hati” [Tafsiir Al-Baghawiy, 1/48].
Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :
وهو أن يظهر بلسانه الإيمان وينطوي بقلبه على التكذيب
“Ia menampakkan keimanan dengan lisannya, dan menyembunyikan kedustaan dalam hatinya” [Madaarijus-Saalikiin, 1/338].
Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata :
وأساس النفاق الذي يبنى عليه : الكذب. والمنافق لابد أن تختلف سريرته وعلانيته، وظاهره وباطنه
“Asas (pondasi) kemunafikan adalah kedustaan. Seorang munafiq mesti berbeda antara yang tersembunyi dan yang nampak, dhahirnya dan baatinnya” [Syarh Hadiits Jibriil, hal. 576].
Ibnul-Qayyim rahimahullah menjelaskan :
زرع النفاق ينبت على ساقيتين ساقية الكذب وساقية الرياء ومخرجهما من عينين عين ضعف البصيرة وعين ضعف العزيمة فإذا تمت هذه الأركان الأربع استحكم نبات النفاق وبنيانه
“Tanaman kemunafikan tumbuh di atas dua cabang : cabang kedustaan dan cabang riyaa’. Dan tempat keluar keduanya adalah dari lemahnya bashiirah dan lemahnya tekad. Apabila keempat hal ini semuanya terpenuhi, maka tanaman kemunafikan dan bangunannya akan menjadi kokoh” [Madaarijus-Saalikiin, 1/358].
Ada dua jenis nifaaq, yaitu :
a.      Nifaaq akbar, yaitu seseorang yang menampakkan keimanan, namun batinnya tidak beriman dan mendustakannya. Dinamakan dengan nifaaq i’tiqaadiy. Pelakunya kafir, keluar dari Islam, dan mengkonsekuensikannya kekal di dasar neraka paling bawah; sebagaimana firman Allah ta’ala :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” [QS. An-Nisaa’ : 145].
Kemunafikan itu adalah seperti kemunafikan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan yang lainnya dari kalangan orang-orang munafik yang hidup di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.[5]
b.      Nifaak ashghar, yaitu nifaaq dalam amal-amal perbuatan, seperti : berdusta, menyelisihi janji, berkhianat, dan yang lainnya dari cabang-cabang kemunafikan. Pokok kemunafikan jenis ini adalah hadits yang terdapat dalam Ash-Shahiihain dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda-tanda seorang munafik ada tiga, yaitu : apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat mengkhianati” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 33 & 2682 & 2749 & 6095, Muslim no. 59, dan yang lainnya].
Nifaaq ini dinamakan nifaaq ‘amaliy, yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama. Tabiat-tabiat tersebut ada pada para pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin.[6]
Nifaaq akbar kadang dimutlakkan dalam nash-nash dan sebagian perkataan ulama sebagai lawan dari kekufuran. Hal itu dikarenakan orang kafir menampakkan kekufurannya, sedangkan orang munafik menyembunyikannya.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
أن الناس كانوا على عهده بالمدينة ثلاثة أصناف مؤمن وكافر مظهر للكفر ومنافق ظاهره الإسلام وهو فى الباطن كافر
 ولهذا التقسيم أنزل الله في أول سورة البقرة ذكر الأصناف الثلاثة فأنزل اربع آيات في صفة المؤمنين وآيتين في صفة الكافرين وبضع عشرة آية في صفة المنافقين
“Bahwasannya penduduk Madinah di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga golongan, yaitu : (1) mukmin, (2) orang kafir yang menampakkan kekafirannya, dan (3) munafik, yang menampakkan keislamannya namun menyembunyikan kekafiran dalam batinnya. Dikarenakan pembagian ini, Allah ta’ala menurunkan ayat di awal surat Al-Baqarah yang menyebutkan tiga golongan tersebut. Allah menurunkan empat ayat berkaitan sifat orang mukmin, dua ayat tentang sifat orang kafir, dan belasan ayat tentang sifat orang munafik” [Syarh Hadiits Jibriil, hal. 291].
5.     Kufur I’raadl.
Berkata Ibnul-Qayyim rahimahullah mendefinisikannya :
وأما كفر الإعراض : فأن يعرض بسمعه وقلبه عن الرسول لا يصدقه ولا يكذبه ولا يواليه ولا يعاديه ولا يصغي إلى ما جاء به ألبتة كما قال أحد بني عبد ياليل للنبي : والله أقول لك كلمة إن كنت صادقا فأنت أجل في عيني من أن أرد عليك وإن كنت كاذبا فأنت أحقر من أن أكلمك
“Adapun kufur i’raadl adalah seseorang berpaling tidak mempedulikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan pendengarannya dan hatinya, tidak membenarkannya namun tidak pula mendustakannya, tidak loyal kepadanya namun tidak pula memusuhinya, serta tidak memperhatikan sama sekali terhadap syari’at yang turun kepadanya. Hal itu sebagaimana perkataan salah seorang dari kalangan Bani ‘Abdu Yalail kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Demi Allah, aku berkata kepada kepadamu dengan satu kalimat : Seandainya engkau benar, maka engkau lebih mulia di mataku untuk aku tolak. Namun seandainya engkau berdusta, maka engkau lebih hina/rendah untuk aku ajak bicara” [Madaarijus-Saalikiin, 1/338].
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka” [QS. Al-Ahqaaf : 3].
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah menyebutkan ayat ini sebagai dalil tentang kekufuran jenis ini.[7]
Begitu juga dengan ayat :
كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ * بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ
Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan” [QS. Fushshilat : 3-4].
Ath-Thabariy rahimahullah berkata :
فاستكبروا عن الإصغاء له، وتدبر ما فيه من حجج الله.. فهم لا يصغون له فيسمعوه إعراضًا عنه واستكبارًا
“Mereka sombong dari memperhatikan ayat-ayat Allah dan mentadaburi apa yang terdapat dalam hujjah-hujjah Allah.... Mereka tidak memperhatikannya dan tidak pula mendengarkannya karena berpaling dan sombong” [Tafsir Ath-Thabariy, 25/95].
6.     Kufur Syakk.
Al-Azhariy menukil dari Al-Laits bahwasannya ia berkata :
الشك ضد اليقين
Syakk (keraguan) adalah lawan dari keyakinan” [Tahdziibul-Lughah 2/1914; dan lihat juga Lisaanul-‘Arab oleh Ibnul-Mandhuur 1/451].
Berkata Ibnul-Qayyim rahimahullah mendefinisikannya :
وأما كفر الشك: فإنه لا يجزم بصدقه ولا بكذبه بل يشك في أمره وهذا لا يستمر شكه إلا إذا ألزم نفسه الإعراض عن النظر في آيات صدق الرسول صلى الله عليه وسلم جملة فلا يسمعها ولا يلتفت إليها وأما مع إلتفاته إليها ونطره فيها: فإنه لا يبقى معه شك
“Dan kufur syakk adalah tidak memastikan kebenaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula mendustakannya, namun ia ragu atas perkara yang beliau bawa. Keraguannya itu tidaklah terus-menerus (menetap dalam hatinya), kecuali jika ia senantiasa enggan memperhatikan bukti-bukti kebenaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak mau mendengarnya, dan tidak mau menengoknya. Adapun jika ia mau menengok dan memperhatikannya, maka keraguan itu tidaklah ada pada dirinya” [Madaarijus-Saalikiin, 1/338].
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah berkata :
كفر الشك وهو كفر الظن، والدليل قوله تعالى: {وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَداً وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْراً مِنْهَا مُنْقَلَباً قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً}.
“Kufur syakk adalah kufur prasangka (dhann) berdasarkan firman-Nya ta’ala : Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu". Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi : 35-37)” [Ad-Durarus-Saniyyah, 2/71].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
أهل الحديث، وجمهور الفقهاء من المالكية والشافعية والحنبلية، وعامة الصوفية، وطوائف من أهل الكلام من متكلمي السنة، وغير متكلمي السنة من المعتزلة والخوارج، وغيرهم: متفقون على أنَّ مَنْ لَمْ يؤمن بعد قيام الحجة عليه بالرسالة فهو كافر، سواء كان مكذبًا، أو مرتابًا، أو معرضًا، أو مستكبرًا، أو مترددًا، أو غير ذلك
“Ahlul-hadits, jumhur fuqahaa’ dari kalangan Maalikiyyah, Syaafi’iyyah, Hanbaliyyah, kebanyakan kelompok shuufiyyah, beberapa kelompok dari ahli kalam Ahlus-Sunnah maupun selain Ahlus-Sunnah dari kalangan Mu’tazilah dan Khawaarij, serta yang lainnya telah sepakat bahwa : barangsiapa yang tidak beriman setelah tegaknya hujjah padanya dengan adanya risalah, maka ia kafir. Sama saja, apakah ia kafir dengan sebab pendustaan, keraguan, berpaling, sombong, bimbang, atau yang lainnya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 20/86-87].
Kufur syakk terjadi jika seseorang ragu terhadap seseuatu yang wajib diimani, walaupun yang bersangkutan tidak meragukan pokok risalah. Oleh karena itu, para ulama menghukumi kekufuran bagi orang yang meragukan sesuatu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan khabar yang ada di dalamnya.
Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah berkata :
واعلم أن من استخف بالقرآن أو المصحف، أو بشيء منه، أو سبهما، أو جحده أو حرفاً منه أو آية، أو كذب به، أو بشيء منه، أو كذب بشيء مما صرح به فيه من حكم أو خبر، أو أثبت ما نفاه، أو نفى ما أثبته على علم منه بذلك، أو شك في شيء من ذلك فهو كافر عند أهل العلم بإجماع
“Ketahuilah, barangsiapa yang meremehkan Al-Qur’an atau mushhaf atau sesuatu darinya, menghinanya, mengingkari keseluruhan atau hanya satu huruf atau hanya satu ayat darinya, mendustakan keseluruhan atau hanya sebagiannya, mendustakan hukum atau khabar yang dijelaskan di dalamnya, menetapkan sesuatu yang dinafikkan olehnya, menafikkan sesuatu yang ditetapkan olehnya, atau meragukan sesuatu darinya; maka ia kafir menurut kesepakatan para ulama” [Asy-Syifaa’, 2/1101].
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah ketika menerangkan beberapa hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang :
الثالث : من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم كفر
“Ketiga : Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka; maka ia kafir” [Majmuu’ Muallafaat Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab, 6/258].
Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.


[1]      Lihat pula : Shaihatun Nadziir, hal. 47.
[2]      Lihat pula : Shaihatun Nadziir, hal. 48-49.
[3]      Seperti yang terdapat dalam hadits :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ الأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمِّهِ: " قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ "، قَالَ: لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ، يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لَأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim bin Maimuun : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid : Telah menceritakan Yaziid bin Kaisaan, dari Abu Haazim Al-Asyja’iy, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya (Abu Thaalib) : “Katakanlah : Laa ilaaha illallaah, yang dengan itu aku bersaksi untukmu kelak di hari kiamat”. Abu Thaalib berkata : “Seandainya saja orang-orang Quraisy tidak mencelaku dengan mengatakan : ‘Sesungguhnya dia hanya mengatakan karena akan mati saja’; niscaya aku akan mengikrarkan kalimat itu untuk menyenangkanmu”. Maka Allah menurunkan ayat : “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki [Diriwayatkan oleh Muslim no. 25].
[4]      Hadits ini sangat lemah. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (1/182-183) dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Dalam sanadnya terdapat ‘Utsmaan bin Miqsam Al-Burri’. Oleh karena itu Syaikhul-Islaam menyebutkannya dengan shighah tamriidl.
[5]      Lihat : Majmuu’ Al-Fataawaa oleh Syaikhul-Islaam (28/434), Madaarijus-Saalikiin (1/347), Jaami’ul-‘Uluum wal-Hikam (2/343), dan Fathul-Baariy oleh Ibnu Hajar (1/89).
[6]      Lihat : Majmuu’ Al-Fataawaa oleh Syaikhul-Islaam (28/435), Jaami’ul-‘Uluum wal-Hikam (2/343), dan Fathul-Baariy oleh Ibnu Hajar (1/89).
[7]      Ad-Durarus-Saniyyah, 2/71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar