Selasa, 15 Juli 2014

ONE DAY ONE JUZ

Penulis: Rizki Maulana

One Day One Juz, satu hari satu juz, suatu kiat yang sangat bagus dalam membaca Al Qur’an lebih-lebih lagi jika bisa dirutinkan ditambah dengan mentadabburi setiap ayat yang dibaca. Namun yang lebih baik adalah membaca Al Qur’an disesuaikan dengan kemampuan. Membacanya pun dilakukan secara diam-diam, tak perlu dengan menampakkan dan memamerkan pada orang lain.


Lihatlah contoh ulama salaf di masa silam. Budak perempuan Ar Rabi’ bin Khotsim berkata, “Ar Rabi’ biasa beramal secara sembunyi-sembunyi. Ketika ada seseorang datang menemuinya, ia segera menutupi mushafnya yang sedang dibuka.”

Ibnul Jauzi berkata, “Ibrahim An Nakha’i ketika membaca mushaf lalu ada  yang masuk menemui beliau, beliau menutupi Qur’annya.”

Asalnya, amalan membaca Al Qur’an tidak ditampakkan pada orang lain. Membaca Al Qur’an One Day One Juz juga demikian kecuali jika ingin memotivasi orang lain. Namun tetap asalnya adalah amalan sunnah itu disembunyikan.

Abu Bakr Al Maruzi, murid dari Imam Ahmad berkata bahwa beliau pernah bersama Imam Ahmad selama empat bulan bersama pasukan tentara. Namun beliau tidak pernah luput dari shalat malam dan membaca Al Qur’an di siang hari. Akan tetapi, aku sendiri tidak mengetahui apakah beliau mengkhatamkan bacaan Al Qur’annya.  Sifat beliau adalah selalu menyembunyikan amalan.

Ingatlah,
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena do’a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.” ( HR. An Nasa-i no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebagaimana dalam sedekah diperintahkan untuk sembunyi-sembunyi. Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, di antaranya,
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya. (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).

Para ulama katakan bahwa penyebutan tangan dan kiri di sini hanyalah ibarat yang menggambarkan sedekahnya benar-benar dilakukan secara diam-diam. Tangan kanan dan kiri, kita tahu begitu dekat dan selalu bersama. Ini ibarat bahwa amalan tersebut dilakuan secara sembunyi-sembunyi. Demikian kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Nah … Sama halnya dengan membaca dan mengkhatamkan Al Qur’an lebih baik dilakukan sembunyi-sembunyi agar dijauhkan dari riya’ dan tidak ikhlas.
Dan memang kebiasaan para ulama rajin mengkhatamkan Al Qur’an.

Anak dari Al Hafizh Ibnu ‘Asakir yaitu Qasim pernah menceritakan tentang ayahnya, ia berkata, “Ayahku punya kebiasaan shalat berjama’ah dan membaca Al Qur’an, juga menghatamkan Al Qur’an setiap pekan pada hari Jum’at. Sedangkan di bulan Ramadhan, ia menghatamkan sehari sekali. Beliau juga rajin memperbanyak shalat sunnah dan memperbanyak dzikir. Beliau pun selalu instrospeksi diri terhadap amalannya yang jauh dari ketaatan.”

Subhanallah … Itulah contoh ulama salaf dahulu. Namun mereka tidaklah suka memamerkan amalan. Ketika mereka bisa menyelesaikan satu juz satu hari (One Day One Juz), mereka pun enggan menceritakan pada orang lain. Cukup amalan tersebut jadi amalan tersembunyi antara dirinya dengan Allah. Amalannya bisa ketahuan hanya dari orang-orang dekatnya saja.

Nasehat para ulama yang kami tahu, mereka memerintahkan membaca Al Qur’an sesuai kemampuan.

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ
Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran ” (QS. Al Muzammil: 20).

Abu Sa’id -sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya- menyebutkan bahwa yang dimaksud bacalah Al Qur’an walau lima ayat. Artinya, sesuaikan dengan kemampuan.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar