Senin, 21 Juli 2014

NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM TIDAK DIJAMIN MASUK SURGA?

Penulis: Rizki Maulana
Sedang hangat dalam dua pekan ini perihal statement kakek[1] Quraish Shihab tentang tidak dijaminnya surga bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam[2]. Ini menambah daftar statement bermasalah Quraish Shihab dalam masalah agama yang menyebar ke tengah umat[3].
Quraish Shihab menyatakan ketiadaan jaminan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk surga berdalil dengan hadits bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga dengan amalnya.
Perkataan ini mengandung dua kekeliruan pokok, yaitu:


1.     Pernyataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dijamin masuk surga.
Perkataan ini tidak pernah dikatakan ulama Islam manapun yang diakui kaum muslimin – kecuali Quraish Shihab sendiri barangkali. Perkataan ini sangat munkar yang dapat menyebabkan pengucapnya keluar (murtad) dari Islam. Banyak nash, baik yang penunjukkannya langsung ataupun tidak langsung, menyatakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah Allah ta’ala jamin masuk ke dalam surga. Diantaranya:
Allah ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab : 21].
Sisi pendalilan : Jika individu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah ditetapkan sebagai teladan bagi umatnya yang mengharapkan pahala dan rahmat Allah di akhirat[4] (surga), tentu konsekuensinya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah individu yang telah dijamin surga.[5]
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberikanmu Al-Kautsar” [QS. Al-Kautsar].
Sisi pendalilan : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dijanjikan Allah ta’ala mendapatkan Al-Kautsar, dan Al-Kautsar adalah sungai di dalam surga[6]. Jika beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dijanjikan mendapatkan sesuatu di dalam surga, pasti beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan memasukinya.
Dalil dari hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
وحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، وزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَأَسْتَفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ، لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ "
Dan telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin An-Naaqid dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Al-Mughiirah, dari Tsaabit, dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Lalu aku minta dibukakan. Penjaga pintu surga berkata : ‘Siapakah engkau?’.  Lalu aku menjawab : ‘Muhammad’. Lantas ia berkata : ‘Aku diperintahkan dengan sebabmu, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 197].
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وإِسْحَاق بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الْمُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ يَشْفَعُ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا "
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid dan Ishaaq bin Ibraahiim; Qutaibah berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Al-Mukhtaar bin Fulful, dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa'at di surga, dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 196].
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَهْلٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا "
Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Ruzaiq : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Haazim, dari ayahnya, dari Sahl, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, dan sedikit merenggangkan antara kedunya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5304].
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ الْمَكِّيِّ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah Al-Makkiy, dari Ibnu Abi Husain, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Aaisyah : “Bahwasannya Jibriil datang kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersama gambar Aisyah dalam secarik kain sutera hijau, lalu berkata : ‘Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat’” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3880; shahih].
Istri di akhirat maksudnya di surga.
Masih banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan hal serupa yang menjelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kelak masuk surga. Ini satu kepastian (jaminan).
2.     Berdalil dengan hadits yang menyatakan amal bukan sebab masuk surga untuk menyatakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dijamin surga.
Hadits yang dimaksud (diantaranya) adalah:
عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ
Dari ‘Aaisyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Beramallah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya”. Para shahabat berkata : “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda : “Begitu juga denganku, namun Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6464 & 6467 dan Muslim no. 2818].
Ini pendalilan yang tidak nyambung[7]. Dalam konteks apapun, hadits ini tidak bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapat jaminan surga dari Allah ta’ala. Hadits ini hanyalah memberikan penjelasan bahwa amal shalih semata tanpa disertai rahmat Allah ta’ala tidak menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga.[8] Tidak ada seorang ulama pun – sependek pengetahuan saya – yang mengatakan dengan dasar hadits ini Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dijamin dengan surga.
Bahkan hadits di atas membantah Quraish Shihab sendiri, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan Allah ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadanya. Secara tidak langsung, ini merupakan jaminan dari Allah ta’ala akan kepastian diterimanya amal shalih Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memasukkannya ke dalam surga.
Sudah keliru dan tidak nyambung, Quraish Shihab pun melempar pembelaan bahwa statemennya telah dipelintir, dikutip sepotong dan di luar konteksnya oleh orang yang mengkritiknya.
Di bagian akhir ceramah, Quraish Shihab memang menyatakan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan diberikan sesuatu yang menjadikan beliau merasa puas dengan anugerah Tuhan, yang itu dipahami dengan surga. Memang paradoks. Dari sisi manapun, tidak boleh untuk dikatakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapat jaminan surga dari Allah ta’ala. Sudah begitu, tidak benar pula cara pendalilannya.
Sebagai tambahan : Ada yang perlu dirinci dari pembahasan ini. Selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, memang tidak boleh memastikan seseorang dari kalangan umatnya yang masuk surga atau neraka kecuali ada dalil yang menunjukkannya. Diantara orang yang dipastikan masuk surga berdasarkan dalil adalah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, ‘Aliy, Thalhah, Az-Zubair, Sa’d bin Waqqaash, ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, dan Sa’iid bin Zaid radliyallaahu ‘anhum.[9] Juga ‘Aaisyah, Sa’d bin Mu’aadz[10], dan yang lainnya yang terdapat dalam nash-nash. Adapun orang-orang yang dipastikan masuk neraka antara lain adalah : Abu Lahab, Abu Jahl, ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul, dan yang lainnya yang terdapat dalam nash-nash.
Wallaahul-musta’aan.



[1]      Beliau lahir di Rappang, tanggal 16 Februari 1944.
[2]      Berikut transkripnya:
Host: “Nabi Muhammad kan istilahnya sudah dijamin sebagai manusia yang paling mulia yang masuk surga gitu. Nah, untuk kita-kita manusia-manusia yang hidup di masa sekarang atau masa depan e masa yang akan datang gitu... apakah ada kemungkinan untuk bisa mengejar status seperti itu pak Quraish. Paling tidak ya.... hampir seper-berapanya lah gitu agar kita merasa yakin......”
Quraish Shihab : “Ya....ya....ya... Satu hal dulu....tidak benar, saya ulangi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga....ehhh.. Surga itu hak prerogatif Allah.... Ya to. Memang kita yakin bahwa beliau... (kurang jelas). Kenapa saya katakan begitu, pernah ada seorang shahabat Nabi kenal orang baik. Terus teman-temannya di sekitarnya berkata : "Bahagialah engkau akan mendapat surga”. Nabi dengar : “Siapa yang bilang begitu tadi ?”. Nabi berkata : “Tidak seorang pun yang masuk surga karena amalnya. Kamu berkata dia baik amalnya jadi dijamin masuk surga”. Surga hak prerogatif Tuhan. Terus ditanya : “Kamu pun tidak wahi Nabi Muhammad ?”. (Beliau menjawab) : “Saya pun tidak, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya”.
Jadi kita berkata dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan kecuali kita katakan bahwa Tuhan menulis di dalam kitab suci-Nya bahwa yang taat itu akan mendapat surga.
Host : “Hmmm.... ada ayatnya ya”.
Quraish Shihab : “Ada ayatnya..... Bahwa Nabi Muhammad akan diberikan sesuatu yang menjadikan beliau itu merasa puas dengan anugerah Tuhan. Kita pahami itu, surga dan apapun yang beliau kehendaki. Tapi buat kita, kita, kiyai sebesar apapun, setaat apapun jangan pastikan bahwa dia masuk surga. Sebaliknya, manusia sedurhaka apapun jangan pastikan bahwa dia pasti masuk neraka”.
[selesai kutipan transkrip].
Berikut cuplikan videonya:
Video yang lebih lengkapnya (agar tidak disangka ‘memotong’ perkataan Quraish Shihab) dapat Anda simak berikut (sesi cuplikan video sebelumnya mulai di menit 19:15) :

[3]      Sebelumnya, Quraish Shihab juga pernah berpetuah ngawur tentang jilbab sebagaimana cuplikan video berikut: 
           
Perlu ruang khusus untuk mengomentari perkataan ngawur dari beliau ini.
[4]      Jaami’ul-Bayaan, 20/235.
[5]      Ini seperti analog dalam kehidupan sehari-hari. Seorang bapak berpesan kepada anaknya : “Contohlah di Budi jika kamu ingin pintar”. Jika Budi bukan orang yang pintar, maka anjuran bapak tadi sia-sia dan tak bermakna.
[6]      Berdasarkan riwayat:
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ الْكَاهِلِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَ: " سَأَلْتُهَا عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، قَالَتْ: " نَهَرٌ أُعْطِيَهُ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاطِئَاهُ عَلَيْهِ دُرٌّ مُجَوَّفٌ آنِيَتُهُ كَعَدَدِ النُّجُومِ "
Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Yaziid Al-Kaahiliy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa; ‘Ubaidah berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Aaisyah tentang firman Allah ta’ala : ‘innaa a’thainaakal-kautsar’ (QS. Al-Kautsar : 1). Ia (‘Aaisyah) menjawab : “Sungai yang diberikan kepada Nabi kalian shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kedua tepinya terdapat mutiara yang berlubang. Bejana-bejananya sejumlah bintang di langit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4965].
[7]      Sebagaimana hal itu diulang Quraish Shihab dalam klarifikasinya atas statementnya di atas berikut:
Tentang Tayangan Tafsir al-Mishbah 12 Juli 2014
Kepada yang meminta klarifikasi langsung, berikut jawaban saya:
Uraian tersebut dalam konteks penjelasan bahwa amal bukanlah sebab masuk surga, walau saya sampaikan juga bahwa kita yakin bahwa Rasulullah akan begini (masuk surga). Penjelasan saya berdasar hadist a.l.:
لا يدخل احدكم الجنة بعمله قيل حتى انت يا رسول الله قال حتى
انا الا ان يتغمدني الله برحمنه
Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya “Engkau pun tidak?”, beliau menjawab “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.”
Ini karena amal baik bukan sebab masuk surga tapi itu hak prerogatif Allah.
Uraian di atas bukan berarti tidak ada jaminan dari Allah bahwa Rasul tidak masuk surga, saya jelaskan juga di episode yang sama bahwa Allah menjamin dengan sumpah-Nya bahwa Rasulullah SAW akan diberikan anugerah-Nya sampa beliau puas, yang kita pahami sebagai Surga dan apapun yang beliau kehendaki. Wa la sawfa yu’thika rabbuka fa tharda. Itu yang saya jelaskan tapi sebagian dipelintir, dikutip sepotong dan di luar konteksnya. Silakan menyimak ulang penjelasan saya di episode tersebut. Mudah-mudahan yg menyebarkan hanya karena tidak mengerti dan bukan bermaksud memfitnah. [M. Quraish Shihab].
[8]      Silakan baca penjelasan hadits ini pada artikel : MASUK SURGA KARENA AMAL ATAU RAHMAT ALLAH?
[9]      Dalilnya adalah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ عَنْ ابْنِ إِدْرِيسَ أَخْبَرَنَا حُصَيْنٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ظَالِمٍ وَسُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ظَالِمٍ الْمَازِنِيِّ ذَكَرَ سُفْيَانُ رَجُلًا فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ظَالِمٍ الْمَازِنِيِّ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ فُلَانٌ إِلَى الْكُوفَةِ أَقَامَ فُلَانٌ خَطِيبًا فَأَخَذَ بِيَدِي سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ فَقَالَ أَلَا تَرَى إِلَى هَذَا الظَّالِمِ فَأَشْهَدُ عَلَى التِّسْعَةِ إِنَّهُمْ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شَهِدْتُ عَلَى الْعَاشِرِ لَمْ إِيثَمْ قَالَ ابْنُ إِدْرِيسَ وَالْعَرَبُ تَقُولُ آثَمُ قُلْتُ وَمَنْ التِّسْعَةُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى حِرَاءٍ اثْبُتْ حِرَاءُ إِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ قُلْتُ وَمَنْ التِّسْعَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قُلْتُ وَمَنْ الْعَاشِرُ فَتَلَكَّأَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ أَنَا
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-‘Alaa’, dari Ibnu Idriis : Telah menceritakan kepada kami Hushain, dari Hilaal bin Yasaaf, dari ‘Abdullah bin Dhaalim - dan Sufyaan, dari Manshuur, dari Hilaal bin Yisaaf, dari ‘Abdullah bin Dhaalim Al-Maaziniy. Sufyan menyebutkan seorang laki-laki yang berada antara dirinya dengan Abdullah bin Dhaalim Al-Maaziniy - ia berkata : Aku mendengar Sa'iid bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail, ia berkata : Ketika si Fulan tiba di Kuufah, ia lalu berkhutbah. Maka Sa'id bin Zaid meraih tanganku dan berkata : "Tidakkah kamu lihat orang dhalim ini ? Aku bersaksi bahwa kesembilan orang itu adalah ahli surga, dan jika aku bersaksi untuk orang yang kesepuluh, maka aku tidak akan berdosa". - Ibnu Idriis (perawi) berkata : "Orang-orang Arab mengatakan : aatsam” - Aku (‘Abdullah bin Dhaalim) bertanya : "Lantas siapa kesembilan orang itu ?". Ia menjawab : "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda saat berada di Hiraa’ : ‘Diamlah wahai Hiraa’ ! Tidaklah ada di atasmu kecuali nabi, shiddiiq, dan syahiid". Aku lalu bertanya lagi : "Siapa kesembilan orang itu?". Ia menjawab : "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, ‘Aliy, Thalhah, Az-Zubair, Sa'd bin Abi Waqqaash, dan 'Abdurrahman bin ‘Auf". Aku bertanya lagi : "Siapa yang kesepuluh ?". Lalu ia merasa ragu-ragu, namun akhirnya ia berkata : "Itu adalah aku" [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4648].
[10]     Dalilnya adalah:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا فَضْلُ بْنُ مُسَاوِرٍ خَتَنُ أَبِي عَوَانَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " اهْتَزَّ الْعَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsanna : Telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Musaawir menantu Abu ‘Awaanah : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyaan, dari Jaabir radliyallaahu ‘anhu : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “’Arasy terguncang karena kematian Sa’d bin Mu’aadz” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3803].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar